15 Maret 2016

Dermaga Hitam

aku menginjakkan lagi kaki ku di tempat ini, masih seperti yang dulu, tak banyak berubah, kaki ku terasa  bergetar hebat, perasaanku masih berdebar kencang sama seperti saat aku meninggalkan kota ini, saat meninggalkan dia.

Sungai Guntung-September 2014

ku tatap nanar buku catatan kecilku,sebenarnya air mataku memaksa untuk keluar dari tempatnya saat aku menulis kalimat itu. Tapi untunglah aku lebih kuat untuk menahan agar air mataku tak keluar.

Ku tatap dalam dalam matahari yang sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat, menikmati indahnya pancaran sinar jingga sang surya yang sedikit demi sedikit mulai menghilang. sesekali angin bertiup kencang, lembar demi lembar buku catatan kecil terkibas-kibas disampingku,
fikiranku menerawang jauh ke masa lalu, mengingat setiap detik yang pernah aku lewati di tempat ini.
Aku berharap dia datang.

***

Perempuan itu bernama Ame, seseorang yang aku kenal 6 tahun yang lalu.
dia hanya perempuan biasa, sama seperti perempuan kebanyakan, tidak begitu cantik, biasa saja. tapi entah kenapa aku tak bisa melepaskan fikiran dari bayang-bayangnya selama 6 tahun ini.

6 tahun yang lalu, aku bisa menjadi lebih dekat dengan Ame di dermaga ini, ya dia mempunyai hobby yang sama sepertiku. Menulis dan menikmati keindahan matahari terbenam.
aku dan Ame pernah bercerita tentang banyak hal di dermaga ini, mulai dari kecintaannya menulis puisi, keinginannya menerbitkan buku kumpulan puisi-puisinya dan banyak lagi.
hanya di tempat ini kami bisa bercerita banyak hal.

***

foto ilustrasi

Dermaga hitam, dermaga yang berada disudut kota guntung, dermaga ini adalah satu satunya tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam, menurutku.

Dulunya dermaga ini lumayan ramai di datangi remaja remaja yang tinggal di kota ini, seringnya pasangan kekasih yang menggunakan tempat itu untuk sekedar menikmati senja bersama, awalnya dermaga ini tidaklah hitam, karena sering digunakan untuk tempat pacaran kemudian dermaga ini dibalur dengan oli hitam, membuat siapapun yang datang dan duduk di tempat itu akan mendapati celananya hitam-hitam karena oli.

Sejak saat itu dermaga yang tadinya ramai menjadi sepi, tidak ada lagi yang ingin datang, mungkin mereka telah menemukan dermaga lainnya yang tidak dibaluri dengan oli.

kami orang pulau, dermagalah salah satu tempat terbaik untuk menghabiskan waktu.
Aku tetap datang ke dermaga itu, aku tidak perduli dengan oli yang menghitamkan seluruh dermaga, aku bisa menggunakan kertas koran untuk menjadi alas dudukku, dan disinilah aku sekarang, dermaga hitam, aku lebih nyaman menikmati kesendirianku disini.

Aku mengeluarkan buku kecil dari dalam tasku, dan mulai menulis, sesekali cerita, sesekali puisi, dan sesekali coretan coretan tak bermakna. sebenarnya aku tidak bisa menulis cerita, apalagi puisi, hanya saja aku suka melakukannya.

Dengan menulis, aku seperti bercerita, bercerita kepada bukuku, satu satunya yang dapat aku percaya untuk menjaga rahasia yang aku tulis di dalamnya, satu satunya yang mendengarkan saat teman-teman yang lain sibuk dengan kehidupan mereka masing masing.

Aku suka menulis, Aku suka senja, Aku suka Laut, Aku suka Dermaga Hitam dan Aku suka kota ini.

Bersambung...

1 komentar:

  1. wwwaahh, lanjutkan om :). ngomong-ngomong, gua juga pekanbaru

    BalasHapus

Terimaksih sudah membaca, usahain kasih komentar ya ^-^