15 November 2012

Tentang kepergian itu

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00, ini sudah 30 menit lebih dari waktu berakhirnya bimbingan belajar, tapi tentor itu terus saja mengeluarkan penjelasan-penjelasan yang sebenarnya dari awal  tak satupun membekas di otak ini
aku lebih memikirkan hal lain yang membuatku sangat gelisah
janjiku!

aku berjanji akan menemuuinya pukul 15.00 sore ini. Tiara, perempuan yang ku kenal di social media twitter setahun yang lalu dimulai dari sering reply reply-an,berlanjut ke DM kemudian ketemu, merasa cocok dan akhirnya jadian
 aku tak terbiasa mengingkari janji, terlebih kepada seorang wanita yang aku anggap begitu spesial

***

“waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” suara riuh mahasiswa membuyarkan lamunanku ternyata kuliah sudah selesai dan teringat kembali pada janjiku
aku bergegas menuju tempat dimana tiara sudah menunggu, tempat pertama kali kami bertemu dulu
di tempat itu juga saat aku menyatakan perasaanku, dan memintanya untuk menjadi kekasihku
tempat itu memang menjadi tempat favorit kami, selain karena strategis dekat dengan rumah,juga harga makanan yang tidak terlalu mahal

***

Tiara duduk manis di meja yang terletak di sudut kafe dengan sweater merah marun bertemankan segelas coklat panas

“hei.. maaf ya aku telat?”sedikit kaget, suaraku sepertinya memecahkan lamunannya

“gak apa-apa kok, aku juga belum lama disini” ucap Tiara sambil tersenyum

“aku juga mau coklat panas ah, mbak! Coklat panasnya satu ya” aku memesan pada pelayan yang sedang mengantarkan pesanan makanan hanya berjarak satu meja dari meja kami

“zi, ada yang mau aku omongin”

“ngomong aja ra, ada apa?”

“aku bukan yang terbaik untuk kamu, kamu harus cari perempuan lain selain aku, aku mau kita putus” tiba-tiba nafasku mulai sulit di keluarkan, dada ku begitu terasa sesak saat mendengar kata putus, apakah dia mengatakan itu sambil menancapkan belati di dada ini

“Putus?! kenapa tiba-tiba? Yang aku tau kita gak pernah ada masalah besar yang mengharuskan kita untuk putus”

“maaf, aku mencintai laki-laki lain! dua minggu lagi aku bertunangan dengannya, aku minta kamu jangan pernah lagi hadir di kehidupan aku”

“Tiara! Tunggu!!” Tiara beranjak dan berlalu tanpa aku bisa meminta penjelasan lebih


***

dua tahun setelah kejadian itu aku sudah tak pernah bertemu lagi dengan Tiara, dia menghilang begitu saja seperti hilang di telan bumi
aku juga tak berniat mencarinya bahkan sebisa mungkin aku tak ingin lagi mengingat semua tentang dia
tapi terkadang ada waktunya aku merindukan Tiara
aku masih butuh penjelasan tentang semua yang terjadi tiba-tiba dua tahun yang lalu
mengapa? Mengapa? Mengapa?
pertanyaan itu yang tak bisa aku hilangkan dari kepalaku, setiap hari dari saat yang tiba-tiba itu hingga sekarang tak pernah kulalui tanpa kata mengapa?
mungkin karena aku masih sangat mencintai Tiara, dan tidak terima dengan alasan yang menurutku itu terlalu menggantung

***

“kak rozi, bisa ketemu?”

“maaf ini siapa?”

“aku tiwi, adik kak Tiara”

“oh, ada apa wi?”

“ntar aja ya kita ngomongnya, di kafe tempat biasa, bisa kan?” aku tidak pernah sekalipun pergi ke kafe bersamanya , dia pasti bermaksud kafe tempat biasa aku biasa makan dengan Tiara

“ya udah, jam 16.00 ya?”

“oke” tut tut tut telfon di tutup

ada apa ini? Kenapa tiba-tiba tiwi menelfon? Tentang apa ini? beribu tanya mulai bersarang di kepalaku

 pukul 15.34, aku harus bersiap-siap untuk menemui tiwi, aku belum mandi dari pagi
memang biasanya kalau tidak ada kegiatan di luar dan aku hanya diam di rumah malas rasanya mau mandi, hanya diam di kamar menghabis kan waktu dengan tidur-tiduran

 16.00 tepat aku sampai di kafe itu, kafe yang sudah dua tahun ini tak pernah aku datangi, tak banyak yang berubah dari kafe itu, yang berbeda hanyalah  wajah-wajah  baru yang terlihat mengenakan seragam merah itu menawarkan menu makanan kepada pelanggan, hanya pelayannya saja yang baru

aku menjamah seisi kafe mencoba menemukan dimana Tiwi, di saat aku menemukannya  duduk di sudut kafe, tepat di tempat Tiara pernah duduk dua tahun yang lalu juga bertemankan segelas coklat panas
tak ada alasan untukku tak mengingat kejadian dua tahun yang lalu, keadaannya sama persis seperti dua tahun yang lalu hanya saja aku tak mendapati Tiara ada di depanku, seakan Tiwi menginginkan  aku mengingat kembali kejadian itu

“hai, udah lama disini?” aku membuka percakapan

“hai kak, aku juga barusan nyampe”

“kok tiba-tiba pengen ketemu? Ada apa nih?”

“kak Tiara”

“kenapa dengan Tiara? hidup bahagia dengan tunangannya? Atau mungkin kamu mau memberikan undangan pernikahan Tiara disini?” aku tak ingin terlihat mengkhawatirkan Tiara di depan Tiwi, sudah termakan gengsi yang tercipta dari dua tahun yang lalu

“kak Tiara gak pernah menikah dengan siapapun, waktu itu dia bohong tentang mencintai laki-laki lain dan dia juga bohong akan segera bertunangan, dia yang minta aku memberitahu kakak sekarang”

“hahaha.. kamu bercanda ya wi? Jadi untuk apa dulu dia meminta putus kalau bukan untuk alasan laki-laki lain?”

“kak Tiara mau ketemu, dia yang akan menjelaskan sendiri tentang semua pertanyaan kamu kak”

“udahlah, aku gak butuh penjelasan tentang itu, aku gak ada waktu untuk membahas masa lalu”

aku beranjak meninggalkan Tiwi, meninggalkan coklat panas yang belum sempat ku minum

“Kak! Ketemu dia sekarang atau kakak gak bakalan pernah ketemu dia lagi!Eka Hospital lantai 3 nomor 312” Tiwi setengah berteriak ke arahku tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sekitar kami

“Rumah sakit?” kalimat itu menghentikan langkahku

***

16.45 aku sampai di rumah sakit itu, kenapa harus bertemu di rumah sakit? Siapa yang sakit?
aku menyusuri lorong demi lorong penuh pintu
309,310,311, 312! Aku tepat berada di depan kamar 312, entah apa yang menghalangiku tangan ini terasa tak mampu memegang gagang pintu itu sampai aku memberanikan diri membuka pintu itu dan melangkahkan kaki kedalam, terlihat sesosok tubuh yang terbaring lemas dengan selang infus dan selang  oksigen yang ada di hidungnya, wajahnya pucat, kepalanya botak
aku kenal sosok wanita itu, wanita yang membuat hati ku hancur berkeping-keping dua tahun yang lalu
wanita yang membuatku tak bisa membuka hati untuk wanita lain

“Tiara?”

“rozi, sini duduk di dekatku,aku kangen kamu” dia memanggilku sambil meneteskan air mata

aku duduk disampingnya, menatap sambil memegang tangan kurusnya

“tiara,kenapa?” aku masih tak percaya dengan apa yang ku lihat, mataku nanar, ada bening yang mau keluar tapi sebisa mungkin aku menahannya

“maaf, aku baru memberi tahumu sekarang” katanya pelan

aku hanya terdiam mendengarkannya menjelaskan semua secara perlahan

“alasan aku pergi darimu dua tahun lalu karena aku di vonis menderita Leukimia dan dokter bilang hidupku tak kan lama lagi, dua tahun ini aku hanya terbaring di tempat ini mengosumsi pil warna-warni hanya untuk sekedar memperpanjang hidupku”

dia terdiam dan mulai menjelaskan kembali

“lucu ya, sebelumnya aku pernah menonton film yang kejadiannya sama persis seperti sekarang ini dan di film itu dia mati dengan tenang di pelukan kekasihnya, kita pernah nonton film itu bersama ya kan?” tanpa menunggu aku menjawab pertanyaannya tiara melanjutkan kalimatnya

“jika nanti aku juga harus pergi seperti cerita di film itu, aku ingin menghabiskan sisa waktuku di pelukanmu, aku ingin menyelesaikan film ini dengan baik, dan kamu harus melanjutkan film ini dengan pemeran yang baru ”

“Tiara!” aku menatap matanya yang terlihat sangat lelah, menginstruksikan agar dia tidak melanjutkan kalimatnya


“aku hanya tak ingin kamu menangisi kepergian ku, disaat aku harus pergi selamanya..
maafin aku, mungkin ini pelukan terakhir dari kamu zi. Mungkin ini juga pertemuan terakhir kita, tapi sebelum itu terjadi aku mau bilang aku masih dan akan selalu cinta sama kamu, terima kasih sudah mau datang kesini” bisik Tiara dengan suara yang makin lama makin kecil

“Tiara! Tiaraa!! Jangan tinggalin aku”

mengapa terjadi kepada dirimu

aku tak percaya kau telah tiada

haruskah ku pergi tinggalkan dunia

agar aku dapat berjumpa denganmu
***

siang itu gerimis aku hanya tinggal sendirian menemani Tiara, seakan tak perduli dengan hujan aku ingin terus menemaninya
aku membelainya dengan lembut, sepertinya dia mengerti aku sangat merindukannya
ku letakkan bunga mawar putih kesukaannya  di atasnya, kemudian ku cium lembut nama yang terukir di nisan itu.
“semoga kamu tenang di alam sana”
                                                                                                                                                                   
                                                                                                                                                                            2012
in memoriam, Tiara pratiwi.


45 komentar:

  1. so sad banget :( gue sampe bacanya ...
    tiara ini cerita beneran ?
    ada in memoriam segala -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. *pukpuk* gue jelasin di komen paling bawah :)

      Hapus
  2. ini nyata beneran??
    :'( hiks.. nyesek aku bacanya.. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. beneran atau gak ya?
      penjelasannya dibawah :)

      Hapus
  3. Ini kenapa mata gue langsung berkaca-kaca bacanya...:'(

    BalasHapus
  4. Ini nyata kak? Ciyus? T.T sedih bacanya... Kayak FTV ya ceritanya :( turut berduka kak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue jelasin di komentar paling bawah tuh :)

      Hapus
    2. Huakakakak gue kira nyata abis bawah sendiri ada.... Wkwkwk keren kak udahan xD tp merhatiin tanda bacanya ya kak :)

      Hapus
  5. Ciyus Miapah Cob,
    akhirnya selesei juga gue baca.nya setelah tadi sempet gue close tab ini. Hehehehe .. c(--____--" )d

    BalasHapus
  6. Beneran nih zi????

    subhanallah ya.. macam film betulannn....

    tapi kok label nya cerpen??

    BalasHapus
  7. ini pure fiksi atau ada nyatanya dikit coi hmmmmmmmm, kena leukimia ya? endingnya itu lo mengingatkan aku pada 3 buah film cinta karya produser indonesia.... coba kamu nanti leat filmnya miris2 hampir samalah
    ini list pilm nya
    ~Ternyata Cinta~
    ~LOVE~
    ~PUPUS~

    sama mereka ambil adegan tentang penyakit yg harus berpisah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang, ntar gue download filmnya, gue jelasin di komen paling bawah :)

      Hapus
  8. Cerita beneran ya, Zi? :(
    Sedih lho :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama kayak lainnya gue jelasin di komentar paling bawah yee :)

      Hapus
  9. Ini fiksi apa beneran?
    Kok ada in memoriannya? :(
    Kalau beneran saya ikut sedih :'(

    BalasHapus
  10. Jatuh berderai air mata sya bca ini zi. Sprtinya ne kisah nyata, bner gk? Keren cerpen nya, lau ikut mgkn bsa menang. Btw sdikit saran zi, tanda bca kyk ttik dn koma tu mhon dprhtikan lg biar tmbah cetar cerpen nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya va, ntar gue lebih merhatiin tanda bacanya lagi, gak ada yang bisa di perhatiin lagi selain tanda baca *sigh*
      penjelasannya di komentar paling bawah ya :)

      Hapus
  11. ey.. merinding gue bacanya.
    lo bener-bener bisa menceritakannya dengan tulisan sederhana tapi bisa ngebawa gue larut dalam ceritanya.

    pertanyaan gue sama komentar yang udah-udah, ini beneran atau cuma fiksi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih bang, bisa aja lo..
      gue jadi melayang nih
      hihi :)

      bener atau fiksi?
      di komentar paling bawah :)

      Hapus
  12. terlepas dari fiksi atau bukan, saya sangat menikmati tulisan lu bang.
    gaya penulisan yang ringan dan bisa mengajak pembacanya masuk kedunia tulisan itu yang membuat saya ingin membacanya lagi dan mencari celah dimana letak keunikan itu hehehehe

    jadi pengen belajar nulis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih bang terimaksih aurakasih #eh :)

      Hapus
  13. bener" gak kebayang kalo gue ngalamin kejadian itu :'(

    BalasHapus
  14. semoga tiara tenang disisiNya sob, yg sabar ya kalo cerita diatas itu bukan fiksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ke komentar paling bawah ya sob :)

      Hapus
  15. yg sabar ya, hanya doa yg bisa membuatnya tenang disana .
    kisah kita sama, i'm so sad :(

    BalasHapus
  16. eh ini ftv banget :'( , seriusan kisah pribadi apa enggak nih gak dijelasin ._.
    penonton pd penasaran -____-

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..
      mas oges tuh di komentar paling bawah gue jelasin :)

      Hapus
  17. Ini beneran apa engga bang?
    Ceritanya kaya boongan tapi kaya beneran juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. boongan kaya beneran?
      maksudnya gimana nih? :)

      Hapus
  18. Kak coba jelasin ini nyata gak? Nyesek ini nyesek *sroooot*

    BalasHapus
    Balasan
    1. nih di bawah komen lu penjelasannya :)

      Hapus
    2. -_- kirain kisah nyata
      tapi keren kok kak ._. kalo banyak yg terbawa berarti berhasil kan cerpennya :D

      Hapus
  19. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahahah gue ketipu ternyata,,,okelah moga menang braiii :)

      Hapus
    2. oooooo fiksi,,,cipuuiiikk lah :(

      Hapus
  20. Iiissssshhhhhh... Di kerjainnnn.... :(
    tapi hebat gila.. Bisa terbawa suasana yg baca. Top lah zi.

    BalasHapus
  21. oooh ini dia yang bikin penasaran tuh, pantaslah penasaran, pakai nama sendiri..wkwkw
    ternyata fiksi ya zi :D

    BalasHapus

Terimaksih sudah membaca, usahain kasih komentar ya ^-^